Jika kedua grafik digabungkan—yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) Index dan Relative Niño 3.4 Index—maka dapat disusun gambaran kondisi iklim yang lebih komprehensif bagi Indonesia pada tahun 2026.
Kombinasi El Niño + IOD positif adalah salah satu konfigurasi yang paling kuat menurunkan curah hujan di Indonesia.
Jika kedua fenomena ini terjadi bersamaan pada 2026, maka dampaknya berpotensi cukup signifikan.
Curah hujan kemungkinan:
di bawah normal
kemarau lebih panjang
Wilayah paling sensitif:
Jawa
Bali
Nusa Tenggara
Sumatra bagian selatan
Kalimantan selatan
Sulawesi selatan
Potensi meningkat pada:
pertanian tadah hujan
sumber air permukaan
waduk irigasi
Potensi karhutla meningkat, terutama di:
Sumatra
Kalimantan
Hal ini sering terjadi ketika El Niño dan IOD positif terjadi bersamaan.
Sektor pertanian kemungkinan menghadapi:
Penurunan produksi padi di lahan tanpa irigasi
Keterbatasan air irigasi
Pergeseran komoditas ke tanaman yang lebih tahan kering seperti:
jagung
sorgum
kacang-kacangan
Menariknya, pola ini sejalan dengan interpretasi tradisional dalam Buku Pananrang Bugis yang menyebut tahun Dal sebagai tahun dengan curah hujan relatif rendah, sehingga tanaman seperti jagung lebih dianjurkan.
Berdasarkan kombinasi prakiraan ENSO (Niño 3.4) dan IOD, kondisi iklim tahun 2026 berpotensi mengalami:
Transisi dari La Niña menuju El Niño
IOD netral menuju positif
Kemarau lebih kering dari normal
Konfigurasi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya:
penurunan curah hujan
kekeringan di beberapa wilayah
peningkatan risiko kebakaran hutan
tekanan pada sektor pertanian
Dengan demikian, diperlukan antisipasi adaptasi sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air, terutama menjelang pertengahan hingga akhir 2026.