Grafik menunjukkan perkembangan indeks Niño3.4 relatif dari September 2025 hingga proyeksi Agustus–September 2026. Pada periode September 2025 hingga Januari 2026, nilai indeks berada pada kisaran −0,7 hingga −0,9°C, yang mencerminkan kondisi anomali dingin di wilayah Pasifik tengah. Nilai tersebut mendekati ambang −0,8°C yang sering digunakan sebagai indikasi fase La Niña lemah.
Memasuki Februari–Maret 2026, indeks Niño3.4 mulai meningkat secara bertahap menuju kondisi netral, ditandai dengan nilai yang mendekati 0°C. Hal ini mengindikasikan melemahnya pengaruh pendinginan di Samudra Pasifik tropis.
Proyeksi model ensemble selanjutnya menunjukkan tren pemanasan yang cukup kuat mulai April 2026. Nilai indeks diperkirakan melampaui ambang +0,8°C sekitar Mei 2026, yang menandakan kemungkinan berkembangnya kondisi El Niño. Intensitas pemanasan diproyeksikan terus meningkat hingga Juli–Agustus 2026, dengan nilai indeks mendekati +2,0°C, yang menunjukkan potensi El Niño kuat.
Sebaran anggota ensemble (garis abu-abu) memperlihatkan adanya ketidakpastian antar model, namun sebagian besar tetap menunjukkan arah tren yang sama, yaitu peralihan dari kondisi La Niña menuju El Niño pada pertengahan tahun 2026.
Secara keseluruhan, grafik ini mengindikasikan tiga fase utama:
La Niña lemah pada akhir 2025 – awal 2026.
Kondisi netral pada akhir musim hujan 2026.
Potensi perkembangan El Niño mulai pertengahan hingga akhir 2026 dengan intensitas yang dapat mencapai kategori kuat.
Perubahan fase ENSO tersebut berpotensi memengaruhi pola curah hujan, suhu permukaan laut, dan dinamika atmosfer di kawasan Pasifik tropis serta wilayah yang dipengaruhinya, termasuk kawasan maritim Asia Tenggara.
Perkembangan indeks Niño3.4 menunjukkan bahwa kondisi anomali dingin (La Niña lemah) yang terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026 diperkirakan akan melemah menuju fase netral pada Maret–April 2026, kemudian berpotensi berkembang menjadi El Niño mulai Mei 2026 dan menguat hingga Agustus 2026. Fenomena ini merupakan bagian dari variabilitas iklim global yang dikenal sebagai El Niño–Southern Oscillation (ENSO).
Pada periode Januari–Maret 2026, pengaruh La Niña yang masih tersisa dapat menyebabkan:
Curah hujan relatif lebih tinggi dari normal di sebagian wilayah Indonesia.
Potensi hujan lebat dan kejadian hidrometeorologi seperti banjir atau longsor masih mungkin terjadi.
Musim hujan di beberapa wilayah berpotensi lebih panjang.
Wilayah yang biasanya paling sensitif terhadap peningkatan hujan antara lain:
Sumatra bagian barat
Kalimantan
Sulawesi
Papua
Saat kondisi bergerak menuju netral ENSO, pola curah hujan di Indonesia umumnya:
Lebih mendekati normal klimatologis
Variabilitas hujan lebih dipengaruhi oleh faktor regional seperti suhu muka laut Indonesia, monsun, dan fenomena intra-musiman.
Mulai Mei–Agustus 2026, proyeksi menunjukkan peluang berkembangnya El Niño yang semakin menguat. Dampak yang berpotensi terjadi di Indonesia meliputi:
a. Penurunan Curah Hujan
Curah hujan berpotensi lebih rendah dari normal.
Musim kemarau dapat datang lebih awal atau lebih kering.
Wilayah yang biasanya paling terdampak:
Jawa
Bali
Nusa Tenggara
sebagian Kalimantan selatan dan Sulawesi selatan.
b. Peningkatan Risiko Kekeringan
Berkurangnya ketersediaan air tanah dan air permukaan.
Potensi gangguan pada sektor pertanian dan irigasi.
c. Peningkatan Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan
Kondisi lebih kering meningkatkan potensi karhutla, terutama di:
Sumatra bagian selatan
Kalimantan.
d. Suhu Udara Lebih Panas
Hari panas lebih sering terjadi karena tutupan awan berkurang.
Meskipun sebagian besar model menunjukkan kecenderungan menuju El Niño, terdapat ketidakpastian dalam intensitas dan waktu kemunculannya. Faktor regional seperti:
suhu muka laut di perairan Indonesia,
aktivitas monsun Asia–Australia,
dan fenomena atmosfer lain dapat memodifikasi dampak ENSO di wilayah Indonesia.
Kesimpulan
Jika proyeksi ini berkembang sesuai indikasi model, maka Indonesia berpotensi mengalami:
awal tahun 2026 relatif basah,
transisi normal pada Maret–April,
kemudian kondisi lebih kering pada pertengahan hingga akhir 2026 akibat perkembangan El Niño.